
Kerinduan dari jemaat Kampung Baru adalah memiliki bangunan yang diperbaiki, sebab saat ini Gereja Kampung Baru memiliki tembok-tembok yang retak. Inilah visi dan misi kita, memiliki gedung yang baik.
Kami bersyukur, dalam keadaan seperti ini, kami dapat beribadah dengan baik dan penuh semangat memuji nama Tuhan. Terlebih bila kita memandang suku-suku yang di pedalaman, yang rindu berbakti dan memuji Tuhan, namun boro-boro mereka memiliki bangunan gereja, kebaktian saja pun masih dipersulit...

Mungkin beberapa jemaat bertanya-tanya mengapa kita yang masih dibawah naungan GKK Pusat tetapi terkesan dipinggirkan.. Untuk dimasukkan dalam program pembangunan gereja 5 milyard saja tidak, apalagi untuk merenovasi gereja kita.
Tapi mungkin Tuhan punya rencana yang baik dibalik itu semua. Baik bagi pertumbuhan iman dan kemajuan gereja ini. Karena rancanganNya memang tak pernah terpikirkan oleh kita. Tuhan punya cara dan punya jalan yang tak terpahami oleh kita semua.
Kita boleh diajar untuk bersyukur dan kita sudah mengalaminya sendiri.
Entah darimana, tiba-tiba ada orang yang tidak kita kenal tergerak menyumbang sebesar Rp.500.000 ataupun juga Rp.100.000,- untuk gereja kita. Memang bukan jumlah yang besar, namun rasa perhatian yang diberikan itu begitu menyentuh hati kita.
Ada saja, yang memberikan sesuatu hal yang terbaik bagi kita. Untuk peralatan Band saja, diberikan oleh orang yang Tuhan gerakkan hatinya. Kuasa Tuhan begitu nyata, ketika orang yang memberikan peralatan Band kita itu bukanlah orang Kristiani.
Ada juga orang yang tergerak untuk memperbaiki jalanan menuju gereja dengan cara membangunnya dengan konblok.
Begitu banyak bisa dihitung, bahwa rata-rata semua inventaris di gereja adalah sumbangsih dari BP, jemaat maupun masyarakat sekitar kita. Bantuan yang diberikan dari GKK Pusat bisa dihitung dengan jari. Sound system, microphone, dan yang lainnya boleh disebut adalah barang-barang hasil patungan BP dan jemaat untuk menyediakannya.
Rasul Paulus sendiri mengajarkan dalam segala keterbatasannya, kita harus belajar untuk mandiri. Meskipun beliau adalah seorang rasul yang begitu digjaya dan hebat pada masanya, beliau tidak pernah mengemis pada jemaatnya, tapi beliau membuat tenda untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.
Biarlah gereja kita juga mandiri... Untuk jemaat yang terbeban bagi perbaikan gedung gereja kita, BP sudah mengedarkan kantong merah untuk Dana Pembangunan Gereja di setiap acara Persembahan di Kebaktian kita.

Tuhan akan memberi yang terbaik bagi perkembangan gereja kita. Jangan kecewa, pesimis dan menyerah bila kita dilupakan dan terpinggirkan... Karena Tuhan tidak pernah melupakan kita, Tuhan telah melukiskan kita di telapak tanganNya (Yesaya 49:16).
Sumber: Buletin Kampung Baru Oktober 2007